perusahaan jasa pembuatan packaging box kemasan , kardus box , packaging box kardus , packaging design , kemasan unik , corrugated box paper

Introduction

A. Kayu sebagai bahan baku

Secara etimologi kertas atau paper berasal dari kata latin papyrus yang merujuk ke sebuah nama tanaman cyperus papyrus. Papyrus adalah lembaran tebal mirip kertas yang digunakan oleh bangsa Yunani untuk menulis. Walaupun secara etimologi berasal dari kata papyrus namun sifat dan tampakan antara kertas dan papyrus sangatlah berbeda. Kertas yang lebih modern adalah lapisan tipis material yang diproduksi dari bubur serat selulosa. Bubur kertas di press dan dikeringkan sehingga membentuk lembaran yang lentur.

Semua bahan material yang mengandung serat selulosa bisa diproses menjadi kertas. Sumber serat selulosa yang paling umum adalah kayu namun ada juga beberapa sumber serat yang lain seperti pelepah pisang, rumput, tanaman perdu, ampas batang tebu, bambu. Beberapa tahun terakhir ini dikembangkan rumput laut sebagai alternatif bahan baku kertas.

ppr1

Struktur kayu mengandung tiga komponen utama yakni cellulose, hemicellulose dan lignin. Selulosa adalah polimer linier yang mengandung 5.000 sampai 10.000 mers dalam satu molekul. Di dalam struktur kayu selulosa ini membentuk bundle yang disebut dengan microfbril.

ppr2

Berdasarkan ukuran panjang pendeknya, serat yang dihasilkan kayu dikategorikan ke dalam serat panjang dan serat pendek. Serat panjang dihasilkan oleh pohon kayu lunak (softwood) dengan kisaran panjang serat 3,5 mm sampai 4,8 mm. Sedangkan serat pendek yang mempunyai kisaran panjang 0,7 mm sampai 1,7 mm dihasilkan oleh pohon kayu keras.

Ciri-ciri pohon kayu lunak adalah daunnya yang berbentuk jarum. Pohon kayu lunak tumbuh subur di daerah subtropis, contohnya pohon pinus dan cemara. Pohon kayu keras mempunyai ciri berdaun lebar dan tumbuh subur di daerah tropis.

ppr3

 

A : FiberB : Wall

C : Macrofibril

D : Microfibril

E : Molekul selulosa

F : Glucose

B. Proses pembuatan kertas

Proses pembuatan pulp dan kertas berkembang di China sekitar abad kedua masehi pada jaman dinasti Han. Kemudian menyebar melalui timur tengah ke pertengahan eropa pada abad ke 13. Pada abad ke 19 industri pembuatan kertas berkembang pesat seiring dengan ditemukannya proses yang lebih ekonomis

Proses pembuatan kertas secara manual sering dilakukan sebagai kegiatan home industri. Bahannya dari kertas bekas ataupun dari serat-serat selulosa tumbuhan yang diblender menjadi bubur kertas. Bubur kertas tersebut biasanya dicampur dengan lem agar kertas yang dihasilkan lebih kuat. Campuran bisa juga berupa bahan-bahan dekoratif semisal kelopak bunga, benang jagung dan lain-lain untuk menghasilkan kertas yang lebih artistik. Bubur kertas ditiriskan di atas saringan kemudian setelah agak kering dipress. Pengerigan akhir dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari.

ppr4

Dalam skala industri, pembuatan kertas sudah memakai mesin-mesin yang modern dan efisien serta berkapasitas besar. Proses pembuburan dilakukan di hydra pulper, mirip dengan blender yang ukurannya besar. Bubur kertas menjalani proses cleaning, screening dan refining. Bubur kertas yang telah direfining diatur kadar seratnya (consistency-nya) agar bisa dihasilkan kertas dengan grammature sesuai yang diinginkan.

Bubur kertas dihamparkan di atas screen (wire) melalui headbox. Keluar dari wire, bentangan bubur kertas yang masih basah di press untuk mengurangi kadar air. Proses selanjutnya pengeringan dengan dipanaskan di silinder dryer.

ppr5

Perlu dibedakan pengertian antara pulp mill dan paper mill. Pulp mill adalah pabrik yang memproduksi pulp dari bahan baku kayu atau sumber serat seluosa yang lain. Sedangkan paper mill adalah pabrik yang memproduksi kertas dari bahan pulp atau waste paper atau campuran keduanya. Beberapa pabrik memiliki mill terpadu antara pulpmill dan paper mill.



C. Jenis Kertas

Kegunaan kertas sangat beragam mulai dari media tulisan, cetakan dan juga kemasan. Khusus dalam industri kemasan kotak karton gelombang (corrugated carton box) dikenal dua kelompok bahan utama kertas yakni kertas untuk lapisan datar (liner) dan kertas untuk lapisan gelombang (fluting)

1. Liner

Di Indonesia kertas liner sering disebut dengan kraft (kraft liner). Hal ini tidak sepenuhnya tepat karena ditilik dari proses pembuatan dan komposisi bahannya tidak memenuhi kategori kraft. Liner dapat dibagi dalam dua kelompok liner yakni:

  • Kraft Liner => Terbuat dari komposisi virgin pulp dan dan sedikit recycled fiber. Parameter kualitas yang dimilikinya sangat baik. Biasanya permukaannya lebih halus dan kelengketan lemnya lebih baik.
  • Test Liner => Terbuat dari 100% recycled paper. Meskipun terbuat dari 100% waste paper namun dengan proses produksi dan penambahan aditive tertentu bisa didapat parameter kualitas yang lebih baik walaupun secara umum tetap di bawah kraft liner.

Warna natural dari liner adalah coklat kusam namun ada juga yang menambahkan proses bleaching pada proses pembuatannya sehingga diperoleh warna white. White liner sering digunakan sebagai bahan kemasan yang menuntut kualitas cetakan dan tampilan yang lebih bagus dan menarik.

2. Fluting Medium

Bahan untuk lapisan gelombang (corrugated) lebih dikenal dengan sebutan kertas medium (medium fluting atau corrugating medium). Ditinjau dari bahan dan proses dapat dikategorikan dua kelompok medium yakni:

  • Semi Chemical medium fluting => Terbuat dari serat pendek kayu keras yang diproses secara semichemical dengan sedikit sekali campuran dari waste pabrik kertas. Kualitasnya sangat baik namun dari harga tidak ekonomis.
  • Bogus medium => Kertas medium terbuat dari 100% bahan waste paper. Kualitasnya dibawah semichemical medium. Namun dengan berkembangnya teknologi paper making termasuk penggunaan bahan kimia, bisa didapat kualitas medium yang baik.

Di Indonesia, baik kertas liner maupun medium keduanya diproduksi memakai 100% waste paper. Hal ini terjadi seiring dengan berkembangnya tuntutan bahan baku yang murah dan ekonomis. Secara umum tidak ada lagi pabrik karton yang mau atau mampu membeli kertas dengan bahan virgin pulp dan menjual kartonnya ke customer.

Dalam beberapa kasus tertentu masih ada pemakai kemasan yang menuntut karton box terbuat dari liner yang mengandung virgin pulp sehingga untuk memenuhi pangsa pasar yang sempit ini dilakukan import kraft liner. Contoh pemakai karton dengan bahan kraft liner ini diantaranya industri susu.

Bahan baku kertas yang dikirim ke pabrik corrugated karton berupa paper roll dengan ukuran lebar dan diameter roll tertentu sesuai dengan spesifikasi mesin corrugator. Panjang gulungan kertas dalam satu roll juga bervariasi tergantung pada jenis grammature kertas dan juga kepadatan proses penggulungan.

ppr6

D. Parameter kualitas kertas dan cara pengukuran

1. Basis Weight

Dikenal pula dengan istilah grammature atau grammage, yakni berat kertas per meter persegi. Hampir sebagian besar dari kita terbiasa mendengar istilah HVS 70. Pengertian 70 dari istilah tersebut adalah gramature kertas 70 gram per meter persegi dengan jenis kertasnya HVS. Jadi selembar kertas HVS70 ukuran kuarto kalau ditimbang tidak akan menunjukkan angka 70 gram karena luas dari selembar HVS Kuarto kurang dari satu meter persegi.

ppr7

Pengukuran basis weight sangat sederhana dan mudah dilakukan. Kertas yang akan di uji dipotong dengan ukuran 10cm x 10cm atau setara dengan 0,01 meter persegi. Potongan tersebut kemudian ditimbang menggunakan timbangan khusus yang ketelitiannya sesuai. Nilai berat dari sample tersebut dibagi dengan luasan potongan sample supaya setra dengan satu meter persegi.

2. Moisture

Walaupun sudah mengalami proses pengeringan, hasil akhir dari paper tetap memiliki kadar air atau kelembaban tertentu. Hal ini penting karena kandungan kadar moisture yang tepat sangat membantu proses konverting box.

Pengujian kadar air juga mudah dan sederhana. Alat yang digunakan berupa moisture tester yang memiliki sensor. Penggunaannya cukup dengan menemplekan sensor ke permukaan kertas. Display pada tester akan menunjukkan angka prosentase kadar air hasil pengecekan.

ppr8

Sistem kerja alat ini menggunakan prinsip conductivity sehingga perlu diperhatikan kondisi alas dari sample yang ditest. Sebaiknya menggunakan alas yang kering dan tidak konduktif semisal kaca. Apabila alasnya bersifat konduktif juga maka hasil pengukuran akan terpengaruh oleh alas.

3. Water Absorption (Cobb Size 120 detik)

Sifat kertas adalah menyerap air, namun daya serap ini tidak sama untuk masing-masing jenis. Kontrol daya serap air sangat penting dalam proses konverting terutama dalam proses pengeleman flute di corrugator dan proses cetak di mesin flexo. Hal ini dikarenakan kedua proses itu menggunakan bahan pelarut air (water base).

Daya serap air diukur oleh banyaknya air yang diserap per satuan luas kertas dalam satuan gram/cm2. Metoda pengukurannya disebut dengan Cobb Size. Metode Cobb size ada yang 60 detik, 90 detik dan 120 detik. Jadi sangat penting untuk mengetahui Cobb size berapa detik yang dipakai dalam pengetesan

Untuk cobb size 120 detik prosedurnya adalah kertas dipotong pada ukuran tertentu dan ditimbang. Potongan kertas dipasang pada alat test Cobb Size yang berbentuk ring silinder yang luasnya 100 cm2, dengan cara dijepit dan dikencangkan dengan kunci pengikat. Air sebanyak 100 cm3 dituangkan kedalam ring silinder dan dibiarkan selama 105 detik. Kemudian airdibuang, ring silinder dilepas dan permukaan kertas ditekan dengan kertas blotting menggunakan roll penekan satu kali jalan gelindingan. Proses penekanan dn pengeringan ini berlangsung selama 15 detik, sehingga total waktu proses 120 detik.

ppr9

4. Bursting Strength Test – BST

Kertas dipotong secukupnya untuk bisa masuk ke alat tester. Potongan dipasang pada alat terster dengan cara dijepit dengan kekuatan jepitan yang sesuai standar. Alat dioperasikan dan akan membrane dari alat tersebut akan menekan kertas sampai jebol. Display skala ukuran tekanan akan menunjukkan suatu nilai yang sesuai dengan tekanan jebolkertas yang diukur.

ppr10

Pada umumnya semakin tinggi gramature kertas maka akan semakin besar pula nilai BST. Namun ini berlaku untuk jenis kertas yang sama. Contoh perbandingan nilai BST disajikan dalam tabel berikut:

ppr11

Pada tabel di atas, kertas lokal diambil dari tipe yang pakai bahan 100% waste paper. Kertas import memakai bahan yag mengandung virgin pulp. Terlihat jelas bahwa untuk grammature yang sama antara lokal dan import nilai Bursting Strengthnya berbeda. Kertas dengan bahan virgin pulp lebih tinggi.

Di kolom keempat dan kelima memuat bursting factor yang nilainya untuk semua gramature sama. (kecuali untuk lokal 275 GSM sedikit beda karena samplenya diambil dari kertas lokal yang masih mengandung bahan virgin pulp). Bursting factor adalah nilai bursting strength per 100gsm. Nilai ini biasanya tetap untuk satu jenis kertas tertentu. Jadi cukup dengan mengetahui nilai bursting factor suatu jenis kertas maka kita dapat menghitung nilai bursting strength untuk grammature berapapun. Hal ini memudahkan kita karena tidak perlu menghapal banyak nilai bursting strength.

5. Ring Crush Test– RCT (CD)

Merupakan kekuatan daya tekan tepi kertas yang mempunyai kaitan langsung dengan kekuatan tekanan box BCT. Metoda pengukuran RCT adalah dengan mengambil sample berbentuk pita kertas ukuran ½” x 6” (12,7 mm x 152,4mm). Untuk menjaga keakuratan dan kesempurnaan pemotongan, ada alat yang diciptakan khusus untuk memotong sample kertas.

Pita kertas tersebut dipasang melingkar pada pegangan sample RCT sehingga membentuk ring. Kemudian pita kertas dengan pegangannya di pasang di alat compression tester. Alat dioperasikan dan akan menekan ring pita kertas secara perlahan. Pita akan menahan kekuatan tekanan sampai pada akhirnya jebol. Nilai kekuatan yang menyebabkan jebol ini tercatat di alat tester, dan inilah yang menjadi nilai RCT kertas yang bersangkutan.

ppr12
ppr13

 Ada hal yang perlu diperhatikan ketika mengambil potongan sample yakni orientasi bentuk memanjang pita. Sample harus dipotong memanjang kearah MD sehingga kekuatan tekan yang terukur adalah tekanan ring crush arah cross direction RCT(CD). Hal ini mutlak karena potongan memanjang arah MD (RCT-Cross Direction) mewakili kekuatan tekanan fluting, sebagaimana tergambar di bawah ini:

Adalah sifat serat kertas pada saat proses pembuatan kertas lebih cenderung menyesuaikan pola susunan memanjang ke arah MD akibat adanya pengaruh laju kecepatan mesin. Hal ini menyebabkan nilai RCT-MD lebih besar dari RCT-CD. Namun walaupun demikian, kekuatan RCT-MD yang lebih besar tidak berarti apa-apa terhadap kekuatan tekanan box karena arah tegaknya alur fluting tidak searah dengan arah RCT_MD. Jadi tidak saling memperkuat.

ppr16
Compression tester (untuk RCT, ECT, PAT dll)

E. Resume Parameter Kualitas Kertas

Masih ada beberapa parameter kualitas yang lain dari kertas yang biasa diujikan di paper mill namun lima parameter di atas kaitannya sangat erat dengan proses converting di karton box sehingga converting mill pun biasa melakukannya sebagai prosedur pengecekan incoming material. Berikut ini resume dari kelima parameter kualitas.

ppr17

Pihak pemerintah sebagai penyelenggara badan regulasi telah mengeluarkan standar kualitas untuk ketas liner dan medium dalam bentuk SNI.

ppr18
Tabel spesifikasi kertas Liner (SNI. 8053.1-2014)

Dari tabel spesifikasi liner tersebut dapat diketahui bahwa bursting faktor untuk Liner kelas A adalah 3.6kgf/100g,sedangkan untuk Liner kelas B adalah 2,8kgf/100g.Kenyataan yang ada di lapangan, liner yang beredar di pasaran hanya memiliki bursting faktor dalam kisaran 2,6kgf/100gatau di bawahnya.

Kondisi ini bagaikan lingkaran setan karena di satu sisi customer menghendaki kualitas yang standar dan baik, namun di sisi lain harga yang dibentuk pasar tidak mampu menopang biaya produksi untuk pencapaian kualitas standar.

ppr19
Tabel Spesifikasi kertas Medium (SNI. 8053.1-2014)


  • 0
Corrugated Box

Corrugated Box

Category : Packaging

Berawal dari bahan baku paper roll yang diproses di mesin corrugator. Output mesin ini menghasilkan corrugated sheet board. Bahan pembantu dalam proses di corrugator berupa lem setengah jadi (biasanya dari larutan tapioka) untuk menempelkan lapisan kertas. Penempelan kertas ini dibantu oleh pemanasan dari steam untuk menyempurnakan proses pengeleman.

cor1

Corrugated sheet yang dihasilkan ada yang dijual langsung ke customer dan ada pula yang melalui proses printing dan converting sehingga terbentuk box yang dinginkan sesuai pesanan.

A. Produk Corrugated Paperboard

  1. Single-face board. Terdiri dari satu sisi yang datar atau liner yang dilem dengan corrugated medium atau fluting. Tipe ini banyak digunakan untuk bahan pembungkus, bantalan atau pengisi wadah kemasan. Single face tidak digunakan untuk produksi box.
    cor2

     

  2. Single-wall board. Terdiri dari dua muka yang datar atau liner dengan satu corrugated medium atau fluting dibagian tengahnya. Lebih dari 90 % karton gelombang yang dibuat menggunakan bahan tipe ini.
    cor3

     

  3. Double-wall board. Terdiri dari dua muka yang datar dan dua corrugated medium atau fluting dan liner tengah diantara kedua fluting. Total lembaran kertas yang menyusun corrugated board tipe ini ada lima lapisan kertas. Corrugated tipe ini dipakai untuk packaging dengan beban berat.
    cor4

     

  4. Triple-wall board. Tipe ini mempunyai tiga corrugated medium atau fluting dan total lembaran kertas penyusunnya ada tujuh lembar. Hanya sedikit pabrik corrugated yang mampu memproduksi tipe ini. Kebanyakan tipe triple wall dibuat dari menggabungkan lembaran single walll dan double wall secara manual bukan langsung di mesin corrugator.
    cor5

     

B. Jenis-jenis flute dan Take Up Ratio

Ada empat tipe flute yang banyak dipakai untuk produk corrugated board di Indonesia memiliki karakter sebagai berikut:

Tipe

FluteTinggi (mm)

Jumlah Flute/meter

Take Up Ratio

A

4,7 – 5

+/- 110

1,56 – 1,6

B

2,5 – 3

+/- 154

1,36 – 1,4

C

3.6 – 4

+/- 128

1,46 – 1,5

E

1,1 – 1,2

+/- 315

1,3 – 1,32

Tabel 2. Tipe flute yang umum ditemukan di Indonesia

Sekitar 100 tahun yang lalu pada masa awal munculnya industri corrugated box, sangatlah masuk akal menamakan jenis flute dengan urutan abjad A, B, C sesuai dengan urutan dikembangkannya masing-masing jenis flute. Penamaan flute dengan abjad ini cukup membingungkan karena urutan abjad tidak mencerminkan urutan spesifikasi flute.

Sebagai contoh flute C ukurannya berada diantara A dan B. Flute D tingginya ada yang 2 mm ada yang 6 mm. Belum lagi dalam perkembangannya penamaan flute diberi embel-embel micro, mini, special, double, super dan ultra, yang mengawali huruf dalam penamaan fluting yang sudah ada.

Profil suatu flute dinyatakan oleh pabrikan pembuat corrugating roll. Profile tersebut meliputi ketinggian flute, jumlah flute per meter, take-up ratio dan dimensi spesifik. Istilah flute size merujuk pada suatu klasifikasi, sebagai contoh C flute dapat terdiri dari ratusan profil flute. Banyaknya varian flute dalam satu klasifikasi dipengaruhi oleh sumber pabrik pembuatnya dan upaya-upaya development dalam rangka memenuhi kebutuhan customer.

Kerancuan aturan spesifikasi ini dicoba ditengahi oleh TAPPI dalam lembaran TIP 0302-04 tahun 2001 yang memberikan alternatif standarisasi flute yang dituangkan dalam tabel berikut:

Flute

Gage

Flute

Letter

Flute Height (mm)

Jumlah Flute per meter

Minimum

Maximum

Minimum

Maximum

0

0.00

0.25

828.4

Infinite

1

H (No)

0.25

0.50

414.2

1072.9

2

G (N)

0.50

0.75

276.1

646.9

3

F

0.75

1.00

207.1

481.1

4

E

1.00

1.25

165.7

390.0

5

1.25

1.50

138.1

331.4

6

Super E

1.50

1.75

118.3

290.1

7

1.75

2.00

103.6

259.2

8

D

2.00

2.25

92.0

235.1

9

B

2.25

2.50

82.8

215.8

10

2.50

2.75

75.3

199.8

11

2.75

3.00

69.0

186.4

12

3.00

3.25

63.7

174.9

13

3.25

3.50

59.2

165.0

14

C

3.50

3.75

55.2

156.3

15

3.75

4.00

51.8

148.6

16

4.00

4.25

48.7

141.8

17

4.25

4.50

46.0

135.6

18

A

4.50

4.75

43.6

130.1

19

4.75

5.00

41.4

125.0

20

5.00

5.25

39.4

120.5

21

5.25

5.50

37.7

116.2

22

Super A

5.50

5.75

36.0

112.4

23

5.75

6.00

34.5

108.8

24

6.00

6.25

33.1

105.4

25

S (K)

6.25

6.50

31.9

102.3

26

(D,K)

6.50

6.75

30.7

99.5

27

K (L,M,Z)

6.75

7.00

29.6

96.8

28

7.00

7.25

28.6

94.2

29

7.25

7.50

27.6

91.8

30

7.50

7.75

26.7

89.6

31

7.75

8.00

25.9

87.5

32

8.00

8.25

25.1

85.5

33

8.25

8.50

24.4

83.6

34

8.50

8.75

23.7

81.8

35

8.75

9.00

23.0

80.1

36

9.00

9.25

22.4

78.4

37

9.25

9.50

21.8

76.9

38

9.50

9.75

21.2

75.4

39

9.75

10.00

20.7

74.0

40

10.00

10.25

20.2

72.6

Tabel 1. Flute Size (TIP 0302-04 TAPPI Tahun 2001)

Diharapkan usulan standarisasi ini dapat memenuhi harapan akan hal berikut:

  1. Pemahaman dan pengenalan yang mudah akan jenis flute.
  2. Mengatur flute size.
  3. Memungkinkan penambahan secara teratur klasifikasi baru untuk flute.
  4. Menyediakan kepentingan jangka panjang.
  5. Melindungi hak atas kekayaan intelektual.

Apabila lembaran kertas penyusun corrugated board dikelupas untuk setiap masing-masing komponennya, maka akan di dapat kondisi panjang kertas penyusun fluting lebih panjang dari komponen liner. Perbedaan ini biasanya mempunyai nilai perbandingan tertentu.Perbandingan panjang kertas penyusun fluting dengan liner disebut dengan Take Up Ratio (TUR).

cor6

TUR

=

Medium yang dipakai untuk memproduksi board dengan panjang tertentu

Liner yang dipakai untuk memproduksi board dengan panjang yang sama

Nilai TUR untuk tiap-tiap jenis fluting berbeda dan unik seperti yang tertuang di Tabel 2. Nilai TUR digunakan untuk perhitungan pemakaian bahan karton pada saat pembuatan. Selain itu TUR juga dapat digunakan dalam perhitungan berat teoritis dari karton.

C. Proses Pembuatan Corrugated Carton Box

Pada umumnya mesin corrugator memiliki dua unit single facer dengan posisi C flute di awal dan B flute di berikutnya. Setiap unit single facer dapat beroperasi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Untuk memproduksi single wall C flute atau B flute cukup mengaktifkan unit single facer yang dikehendaki dan me non aktifkan unit yang lain.

Apabila yang diproduksi tipe board double wall CB flute maka kedua unit single facerdijalankan bersamaan dan masing-masing single face bertemu (digabungkan) di bagian double backer. Secara diagram, alur pembuatan corrugated board seperti digambarkan sebagai berikut:

cor7
Bagan mesin dan diagram alur proses corrugator.

Prosesnya diawali dengan pembentukan pola gelombang dari kertas medium. Kertas masuk ke corrugating roll yakni dua roll yang mempunyai pola alur gelombang (seperti roda gigi). Kertas medium dijepit diantaranya sehingga terpola membentuk gelombang sesuai corrugating roll. Ke atas puncak-puncak gelombang dari kertas medium ini kemudian di aplikasikan lem.

Kertas medium yang sudah bergelombang dan dipuncaknya terdapat lem kemudian dipertemukan dengan kertas bagian liner sehingga membentuk produk yang satu sisinya rata dan sisi yang lain bergelombang. Produk ini disebut single face. Proses ini dapat dijelaskan sesuai gambar berikut:

cor8
Gambar Unit single facer.

Corrugated sheet yang dihasilkan di corrugator sudah mempunyai ukuran lebar dan panjang tertentu sesuai dengan pesanan. Pemotongan ukuran lebar dan panjangsheet dilakukan di unit slitter dan cutter di mesin corrugator. Untuk mesin-mesin yang sudah automatic, proses slitting dan cutting dilakukan dengan bantuan komputer dan mesin berjalan kontinyu dalam artian tidak perlu berhenti bahkan dalam proses pergantian ukuran.

cor9
Unit NC Slitter
cor10
Unit NC Cutter

D. Score Line

Selain dilakukan proses potong lebar, di unit NC Slitter juga dilakukan pembuatan alur lekukan apabila memang ada permintaan. Sehingga corrugated sheet yang dihasilkan mempunyai karakteristik sebagai berikut

cor11

Alur lekukan yang dibuat diunit NC slitter posisinya melintang terhadap alur tulang fluting. Istilah untuk alur lekukan ini disebut score. Kegunaan score ini adalah untuk membentuk alur pada saat corrugated sheet dilipat, semisal melipat flap tutup box. Ada beberapa macam tipe score yang mempunyai kegunaan masing-masing.

  1. Score standar (male-female). Dibagian luar printing side terbentuk dua garis (jejak scoring female), sedangkan di bagian dalam alurnya satu (jejak male). Sifatnya mudah di tekuk ke satu sisi dan banyak di gunakan secara luas terutama untu box dengan bahan double wall. Namun tidak cocok digunakan untuk design box yang cetakannya rapat dengan alur lipatan. Hal ini karena jejak scoring bisa mengganggu impression cetakan.
    cor12

     

  2. Score rata (male-flat). Dibagian luar tidak terbentuk alur (jejak scoring flat), sedangkan di bagian dalam ada satu jalur score. Sifatnya mudah ditekuk ke satu sisi walaupun tidak semudah score standa. Design grafis untuk box dengan tipe score rata seperti ini dapat dibuat lebih leluasa bahkan diatas alur lipatanpun dapat dihasilkan cetakan yang rata dan nyata.
    cor13

     

  3. Score tunggal (male-male). Bagian luar dan dalam mempunyai alur score yang tunggal. Score tipe ini dipakai untuk box yang proses tekuk flapnya kedua arah, yakni tekuk keluar pada saat pengisian barang dan tekuk ke dalam pada saat menutup box.
    cor14

     

E. Printing dan Converting

Corrugated sheet yang dihasilkan corrugator akan diproses printing dan converting sesuai dengan permintaan. Metoda printing corrugated box menggunakan teknik flexography atau cetak tinggi. Istilah cetak tinggi berkaitan dengan karakter printing platenya yakni image yang terbentuk merupakan akibat dari perbedaan tinggi.

Contoh sederhana dari konsep cetak tinggi adalah stempel atau cap. Tulisan di stempel merupakan bagian timbul dan bersifat terbalik. Stempel ditekan ke bak tinta kemudian dicap ke kertas atau dokumen. Proses cetak flexo pun prinsipnya sama seperti stempel, namun dilakukan dengan mesin berkecepatan tinggi.

Mesin cetak flexo mempunyai beberapa bagian atau unit yang beberapa diantaranya bersifat optional. Flow proses cetak flexo digambarkan dalam diagram berikut

cor15

Unit feeding merupakan bagian awal untuk memasukkan sheet yang akan dicetak. Pada mesin yang berkecepatan tinggi, unit feeding ini menjadi suatu keharusan. Kecepatan cetak diatas 300 sheet per menit tidak akan mampu dimbangi dengan feer sheet manual.

Printing unit merupakan bagian yang utama dari sebuah mesin cetak. Jumlah printing unit dalam sebuah mesin cetak flexo bervariasi sesuai dengan kebutuhan akan jumlah warna yang dicetak. Biasanya mesin flexo dengan 4-5 printing unit sudah mencukupi berbagai kebutuhan cetak.

Slotting unit berfungsi untuk membuat cowakan atau slotter pada corrugated sheet yang akan dibentuk box RSC (Regular Slotted Carton). Unit ini bersifat optional karena proses slotting bisa dilakukan secara manual ataupun dengan unit yang terpisah dari mesin cetak

cor16

Unit Die Cut yang terintegrasi dengan mesin cetak menggunakan metoda rotary die cut. Unit ini terdiri dari dua buah roll. Satu untuk dudukan pisau die cut dan satu lagi untuk landasan proses pemotongan. Sheet yang akan di die cut berjalan diantaranya dan di press sehingga pisau menekan dan memotong sheet.

cor17

F. Terminologi Ukuran Box

Dalam literatur lokal dimensi ukuran box sering disebut dengan Panjang (P), Lebar (L) dan Tinggi (T). Di literatur internasional dimensi banyak dituliskan dengan terminologi Length (L), Width (W) dan Height (H), namun beberapa literature mengistilah lebar dengan sebutan Breadth (B)

Length (L) adalah ukuran terpanjang dari bukaan box, Breadth (B) ukuran terpendek dari bukaan box, sedangkan Height () adalah ukuran dari bukaan atas sampai ke dasar box. Ukuran L, B, H harus disebutkan dengan jelas dalam deskripsi design box. Untuk beberapa model design, nilai B dapat melebihi nilai L

Untuk box tipe telescopic heigth (h) dari bagian tutup atas harus dituliskan sebagai nilai ukuran keempat. Contoh 355 x 205 x 120/40 mm adalah ( L x B x H/h ) dengan 40 mm adalah tinggi dari tutup bagian atas.

Design box dengan flap terluar tumpang tindih atau overlapping, area dari overlap (o) juga dinyatakan sebagai nilai ukuran keempat. Contoh 355 x 205 x 120/40 mm adalah ( L x B x H/o ) dengan 40 mm adalah ukuran flap yangsaling tumpang tindih.

Box yang dibuat harus memiliki ruangan yang cukup namun tidak berlebih untuk mewadahi barang yang akan dikemas. Ukuran ruangan dalam dari box istilah ukuran dalam (internal size). Pada prakteknya tidak disarankan untuk mengukur ukuran dalam box dengan cara membentuk box tersebut dan mengukur jarak dinding ke dinding dari ruangan dalam box.

Hal ini dikarenakan pengukuran internal size secara langsung dari box yang telah dibentuk, hasilnya dipengaruhi oleh kesempurnaan bentuk box tersebut dan juga letak titik-titik pengukuran. Apabila pengukuran dilakukan ditengah dinding box akan sangat terpengaruh oleh kelengkungan atau defleksi dari dinding box. Hal ini jelas memberikan hasil yang tidak akurat.

Ada satu istilah lain yang dikenal dalam terminologi ukuran box yakni ukuran luar (external size). Agak berbeda dengan pemahaman kata “luar” pada umumnya. External size bukanlah ukuran jarak dinding ke dinding bagian luar box pada kondisi sudah di bentuk. External size adalah ukuran crease to crease atau score to score.

Cara pengukurannya adalah box di buka joinnya dan dibentang pada bidang yang rata. Bentangan dibuat rata, jangan sampai ada tekukan atau lengkungan yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran. Pada posisi dibentang terbuka akan jelas terlihat jejak alur lipatan crease to crease (alur lipatan sejajar tulang fluting) dan score to score (alur lipatan yang melintang tulang fluting). Pada tipe box Regular Slotted Carton (RSC atau dikenal juga A1) jarak crease to crease adalah jarak ukuran luar dari panjang dan lebar box. Sedangkan jarak score to score mewakili ukuran luar tinggi box.

Salah satu kelebihan dari metoda pengukuran external size dengan membuka bentangan box adalah hasilnya lebih akurat. Walaupun kondisi box sudah lusuh atau rusak, selama masih bisa dibentang dengan rata, akan terlihat jelas alur creasing dan score yang akan diukur.

cor18

G. Korelasi External dan Internal Size

Pada saat selembar corrugated sheet yang ditekuk pada alur creasing atau scorenya, ketebalan sheet akan terbagi dua ke arah luar dan dalam secara imbang masing-masing senilai setengah ketebalan . Hal ini menjadi dasar perhitungan korelasi antara ukuran luar (crease to crease) ke ukuran dalam (ukuran ruangan).

Ukuran panjang dan lebar dibatasi oleh masing-masing dua dinding karton sehingga ukuran dalam yang berkorelasi adalah ukuran luar adalah dikurangi dua kali dari separuh ketebalan dinding, atau ukuran luar dikurangi ketebalan dinding.

Perhitungan ukuran tinggi sedikit lebih kompleks karena melibatkan flap atas dan bawah. Secara konstruksi pada bagian atas dan bawah masing-masing ada dua lembar flap yang dilipat saling menumpuk. Sehingga pengaruh ketebalan terhadap ukuran tinggi box adalah dua kali setengah ketebalan sheet dikali lagi dua karena ada dua posisi yakni atas dan bawah. Sehingga ukuran dalam untuk tinggi box adalah ukuran luar dikurangi dua kali ketebalan dinding.

cor19

Jadi jelas terlihat bahwa ukuran dalam sangat dipengaruhi oleh ketebalan dinding box, sehingga untuk setiap bahan yang dipakai apakah itu single wall atau double wall akan ada nilai perhitungan yang berbeda. Setiap pabrik mengembangkan sendiri rumus ukuran secara empiris sesuai dengan karakteristik flute yang dimilikinya. Mungkin ada perbedaan rumus antara satu pabrik dengan pabrik yang lain, namun biasanya tidak terlalu besar. Perbedaan rumus yang terjadi biasanya dalam kisaran satu milimeter.

Perhitungan ukuran external ke internal dapat dilakukan kebalikannya yakni internal ke eksternal. Biasanya kita diberi data mengenai ukuran dimensi dari produk yang akan dikemas. Ukuran luar dari produk yang akan dikemas harus masuk ke ukuran dalam box yang akan kita rancang.

cor20
cor21

Ukuran dari produk yang akan kita kemas kita kalikan sesuai jumlah dan konfigurasinya. Misalkan produk yang akan dikemas berupa kaleng sejumlah 6 buah dengan konfigurasi susunan 2×3. Apabila diameter luar kaleng adalah D dan tingginya H, maka ukuran dalam box yang harus disediakan untuk menampung kaleng tersebut adalah panjang 3D dan lebar 2D dengan tinggi H.

Diagram berikut ini menunjukkan jarak crease to crease dan score to score. FA dan FB adalah flap atas dan flap bawah yang merupakan jarak score dari pinggir sheet. T’ jarak score to score atau ukuran luar tinggi box. Sedangkan P1, L1, P2 dan L2 berturut-turut mewakili jarak crease to crease atau ukuran luar untuk panjang dan lebar box.

cor22

Panjang pertama (P1) dan kedua (P2) serta lebar pertama (L1) dan (L2) rumus pertambahannya tidak sama. Hal ini dikarenakan pertimbangan adanya ketebalan karton akibat join flap. Sehingga untuk mendapatkan bentuk yang mendekati persegi (square) rumus internal ke eksternal dibuat tidak sama persis. Rumus ukuran internal ke eksternal untuk box tipe RSC atau A1 disajikan dalam diagram dan tabel berikut:

Contoh, ukuran dalam box masing-masing panjang lebar dan tinggi PxLxT, yang diinginkan 400x300x250 dengan jenis flute C. Berapa ukuran luarnya dan berapa ukuran panjang lebar bahan sheet yang diperlukan?

Diketahui: ukuran dalam, P = 400 mm

L = 300 mm

T = 250 mm

Flute C

Ditanyakan: Ukuran luar box dan ukuran bahan sheet

Jawab: Penambahan ukuran luar box untuk flute C adalah P+4, L+4 dan T+7

K = 35 mm (kuping atau join flap untuk flute C)

P1 = P+3 = 400+3 = 403

L1 = L+4 = 300+4 = 304

P2 = P+4 = 400+4 = 404

L2 = L+1 = 300+1 = 301

T’ = T+7 = 250+7 = 257

FA = 1/2L+2 =1/2300 + 2 = 152

FB = 1/2L+2 =1/2300 + 2 = 152

JP = 35+403+304+404+301 = 1447

JL = 152 + 257 + 152 = 561

Sehingga diagram uraiannya sebagai berikut:

cor25

Kalau box tersebut di atas memakai bahan kertas K150/M125/K125. Berapa berat bahan sheet yang digunakan dan berapa berat box yang sudah jadinya?

H. Design dan Kode Box International

Kode-kode tipe box yang sering dipakai di kalangan produse dan konsumen sangat beragam dan cenderung tidak standar. Sebagai misal tipe box regular slotted carton (RSC) sering diistilahkan dengan sebutan box A1, namun di beberapa pabrik yang lain disebut tipe box B1. Berikut ini daftar kode tipe box yang dipakai secara internasional.
Kode internasional yang akan diuraikan disini disusun atas kerjasama ESBO (The European Solid Board Organisation). Sebagai dokumen yang dijadikan acuan, banyak dipakai di seluruh dunia dan diadopsi oleh United Nations. Simbol-simbol yang dipakai dalam gambar dan sistem komputer sebagai berikut:

cor26

Kode internasional untuk setiap model design box dinyatakan dengan angka-angka.
Klasifikasinya sebagai berikut:

·Kode 01xx

Roll (single face) dan sheet

·Kode 02xx

Box dengan tipe slotted. Biasanya terdiri dari satu bagian dengan sambungan atau join flap di-lem, stitch atau di lakban.

·Kode 03xx

 Box tipe telescopic. Biasanya tersusun lebih dari satu bagian dengan ciri mempunyai tutup atas atau bawah.

·Kode 04xx

Box tipe lipat dan baki (tray).
Biasanyaterdiri dari satu lembaran bahan. Wadah terbentuk dengan melipat bagian pinggir sehingga terbentuk  dinding. Ada design tray tertentu biasanya dibuat pengunci, handle, panel display dan lain-lain

·Kode 05xx

Box tipe geser. Terdiri dari beberapa potongan lembaran atau liner yang disisipkan satu sama lain dari arah yang  berbeda

·Kode 06xx

Box tipe rigid. Terdiri dari dua bagian tutup yang terpisah dan body yang memerlukan penggabungan dengan jahit atau  lainnya, sebelum box tersebut dapat digunakan

·Kode 07xx

Wadah dy-glued. Terbuat dari satu bagian yang siap dipakai. Untuk bisa digunakan hanya perlu set-up yang sederhana.

·Kode 09xx

Pelengkap untuk interior box semisal liner bagian dalam, pads, partisi, divider dan lain-lain.

0200
0201
0202
0203
0204
0205
0206
0207
0208
0209
0210
0211
0212
0214
0215
0216
0217
0218
0225
0226
0227
0228
0229
0230
0231
0300
0301
0302
0303
0304
0306
0307
0308
0309
0310
0312
0313
0314
0320
0321
0322
0323
0325
0330
0331
0350
0351
0352
0400
0401
0402
0403
0404
0405
0406
0409
0410
0411
0412
0413
0415
0416
0420
0421
0422
0423
0424
0425
0426
0427
0428
0429
0430
0431
0432
0433
0434
0435
0436
0437
0440
0441
0442
0443
0444
0445
0446
0447
0448
0449
0450
0451
0452
0453
0454
0455
0456
0457
0458
0459
0460
0470
0471
0472
0473
0501
0502
0503
0504
0505
0507
0509
0510
0511
0512
0601
0602
0605
0606
0607
0608
0610
0615
0616
0620
0621
0700
0701
0703
0711
0712
0713
0714
0715
0716
0717
0718
0747
0748
0751
0752
0759
0761
0770
0771
0772
0773
0774


  • 0
Quality Test

Quality Test

Category : Packaging

A. Parameter kualitas corrugated board

Dari sekian banyak parameter kualitas corrugated board yang dibahas, ada empat yang penting diketahui oleh para pemakai corrugated box yakni:

qc1

Pengertian dan metoda pengetesan dari parameter tersebut dibahas dalam uraian berikut:

1. Edge Crush Test (Kekuatan Flute arah tegak)

Edge Crush Test atau lebih umum disebut ECT adalah metoda pengetesan untuk mengetahui kekuatan tekanan arah tegak dari corrugated board. Spesimen dipotong dengan ukuran dan pola tertentu. Ada juga yang mencelupkan ujung potongan tersebut ke cairan parafin.

qc2

Potongan spesimen di pasang di alat penekan. Pemasangan ini biasanya memerlukan pemegang atau holder agar lebih stabil posisinya. Kemudian alat penekan dioperasikan dengan menambahkan kekuatan tekan secara konstan. Display akan menunjukkan besarnya beban yang diterima oleh spesime. Penunjukkan akan berhenti pada nilai tekanan yang diterima oleh spesimen sebelum mengalamai deformasi.

qc3

Nilai ECT adalah nilai tekanan maksimal sebelum deformasi dibagi dengan panjang spesimen. Satuannya dinyatakan dalam Kgf/cm. Nilai ECT ini berkorelasi positif dengan kekuatan tekanan tegak box, Box Compression Strength Test (BCT). Artinya semakin besar nilai ECT maka semakin besar pula kekuatan tekanan tegak box nya.

Beberapa jenis potongan spesimen menurut standar metoda test yang berlaku sebagai berikut:

qc4p5
Metoda TAPPI Metoda JIS-0401
qc6p7
Metoda FEFCO Metoda Neck Down

2. Flat Crush Test (Kekuatan Flute arah mendatar)

Metoda test yang mengukur kekuatan tekan arah mendatar dinyatakan dengan Flat Crush Test (FCT). Mirip dengan ECT hanya saja pengukuran dilakukan ke arah mendatar. Spesimen yang diukur berupa potongan yang berbentuk lingkaran dengan luas tertentu (32,25 cm2). Pemotongan dilakukan dengan menggunakan alat khusus, tujuannya agar proses pemotongan tidak menimbulkan tekanan pada spesimen.

qc8

Spesimen diletakan di alat penekan universal, sama dengan alat ukur ECT, namun tidak perlu pakai holder. Setelah diletakkan di tengah bidang alat ukur, mesinnya dihidupkan dan akan menekan spesimen dengan kecepatan tetap. Tekanan yang diterima oleh spesimen akan ditunjukkan di display. Nilainya akan terus meningkat seiring bertambahnya tekanan, dan akan berhenti pada penunjukkan maksimum pada saat terjadi deformasi.

qc9

Parameter kualitas box yang berkorelasi dengan FCT adalah kekuatan tekan tegak box. Apabila corrugated sheet mempunyai FCT yang tinggi artinya pola flute tidak akan cepat rubuh apabila mendapat tekanan mendatar. Ketebalan sheet akan bertahan, tidak mudah mengalami penipisan. Ketebalan sheet ini berkorelasi positif degan BCT.

3. Pin Adhesion Test

Beberapa kasus kerusakan kemasan karton diakibatkan oleh pengelupasan lapisan kertas penyusun corrugated sheet. Lapisan liner terleps dari bagian fluting. Banyak faktor yang menyebabkan pengelupasan. Bisa dari faktor lem maupun dari proses pembuatan. Metoda untuk mengukur kekuatan kelekatan antara lapisan liner dengan fluting dikenal dengan Pin Adhesion Test (PAT).

Prinsip dari metoda uji ini adalah dengan menarik kearah berlawan bidang lem antara lapisan liner dengan fluting

qc10

Alat untuk uji PAT ini berupa satu set rangkaian jarum yang tersusun rapi dengan ukuran dan jarak tertentu. Ukuran dan jarak ini sesuai dengan jenis fluting yang akan di test, dan tidak bisa dipertukarkan untuk flute yang berbeda.

Spesimen dipotong berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3 x 15 cm. Hal terpenting dalam proses pemotongan ini adalah bentuk potongan harus tegak lurus dengan alur fluting. Kedalam potongan spesimen ini dimasukkan jarum alat PAT yang sesuai.

qc11to13

4. Bursting Strength Test

qc14

Salah satu faktor yang penting dari unsur proteksi sebuah kemasan adalah ketahanan terhadap tekanan jebol atau ketahanan retak . Tekanan jebol yang berasal dari lingkungan atau dari luar kemasan dan juga tekanan jebol dari barang yang dikemas ke arah luar.

qc15

Tekanan jebol atau Bursting Strength Test (BST) dari corrugated sheet merupakan jumlahan dari BST masing-masing kertas penyusunnya. Memang nilainya tidak sama persis karena ada faktor proses yang mempengaruhi BST akhir. Untuk evaluasi, BST suatu corrugated sheet hanya diperhitungkan dari BST kraft linernya saja.

Pengukuran BST corrugated sheet hampir sama dengan pengukuran kertas. Corrugated sheet yang akan di tes dimasukkan ke BST tester. Apabila ukurannya cukup besar dan menyulitkan bisa dipotong. Corrugated sheet dijepit di alat tester dengan kekuatan jepit tertentu.

Alat bursting streng tester sesuai dengan prinsip Mullen merupakan standar bagi kebanyakan institusi . JW Mullen adalah yang pertama kali mengembangkan alat hydraulic bursting strengthpada awal 1887.Hingga saat ini prinsip alat yang sama masih banyak digunakan namun mengalami kemajuan dalam hal material yang lebih baik, peralatan elektronic yang modern dan penggunaan teknologi micro computer yang memberikan hasil test yang lebih akurat.

Prinsip alat ini adalah memanfaatkan tekanan fluida untuk menjebol spesimen karton. Fluida dari alat tersebut tidak bersentuhan langsung dengan karton karena ada membran pembatas. Pada saat karton jebol oleh tekanan membran fluida, skala ukuran tekanan akan menunjukkan angka yang bersesuaian pada kondisi jebol tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa BST dari corrugated board sesuai dengan prinsip Mullen tidak dapat digunakan untuk double wall board dengan grammature sangat tinggi dan triple wall board karena hasilnya tidak akurat.

Pada saat melakukan test bursting, hal yang penting untuk diperhatikan adalah besarnya tekanan yang diberikan pada saat penjepitan karton yang akan di test. Tekanan jepit yang terlalu rendah akan memberikan nilai BST yang tidak akurat. Tekanan jepi yang rendah akn memberikan nilai BST yang tinggi. Apabila tekanan jepit dinaikkan maka nilai BST akan semakin turun. Kesetimbangan nilai BST mulai terjadi pada tekanan jepit 300 kpa. Disarankan tekanan jepit berada pada nilai diatas itu.

Sebelum digunakan, setiap alat bursting tester harus dikalibrasi. Caranya dengan melakukan test bursing pada alumunium foil yang telah memiliki nilai busrting standar tertentu. Ada dua macam alumunium foil untuk test, yakni high pressure (standar BS 11,4 kgf/cm2) untuk test karton gelombang dan low pressure (standar BS 5,8 kgf/cm2) untuk test kraft liner.

qc16p17

B. Parameter Kualitas Corrugated Box

1. Box Compression Strength Test

Merupakan parameter kekuatan box dalam menahan tekanan vertikal. Pengukuran dilakukan dengan membentuk box yang yang akan dites. Kemudian box tersebut diletakkan di alat box compression test.

Output dari test ini berupa nominal beban maksimal yang dapat ditahan oleh box. Perlu diperhatikan bahwa beban ini merupakan beban maksimal sesaat. Pembebanan selama proses pengujian juga dilakukan dalam kondisi dinamis yang ajeg atau steady. Tidak ada unsur kejutan atau shock dalam proses pembebanan

qc18

2. Drop Test

Box dibentuk sempurna dan diisi dengan produk yang akan dikemas. Dalam kondisi tertentu karena pertimbangan biaya, produk yang dikemas bisa berupa dummy. Setelah dikemas sempurna, box tersebut di jatuhkan dari ketinggian tertentu ke bidang datar yang keras dan tidak lentur atau memantul. Proses ini diulang beberapa kali sesuai kebutuhan. Output dari test ini berupa pengamatan visual terhadap kemasan beserta produk yang dikemasnya. Pengamatan meliputi kerusakan secara kualitatif.

Berbeda dengan proses BCT, dalam proses uji jatuh ini kondisi yang berpengaruh dalam adalah efek kejut. Efek kejut ini menjadi penting karena dalam handling dilapangan atau proses distribusi karton dan produknya sering mengalami perlakuan dibanting atau dilempar

3. Vibration Test

Dalam pengujian ini, box diberi beban vertikal dan horizontal secara dinamis. Uji ini merupakan upaya peniruan kondisi proses distribusi dimana box mengalami goncangan vertikal dan horizontal secara dinamis selama perjalanan di jalur distribusi.

C. Standar Kualitas Nasional dan Internasional

1. Spesifikasi Karton Gelombang SNI. 14.1439-1998 (Revisi)

a. Karton Gelombang Dinding Tunggal (Single Wall)

Jml
GSM Liner

Minimum BST

Minimum ECT

g/m2

Kgf/cm2

kPa

Kgf/cm

kN/m

250

7.5

735

3.2

3.13

300

9.0

882

3.6

3.53

400

12.0

1176

4.5

4.41

550

15.4

1510

5.7

5.59

600

17.0

1657

6.0

5.88

b. Karton Gelombang Dinding Ganda (Double Wall)

Jml
GSM Liner

Minimum BST

Minimum ECT

g/m2

Kgf/cm2

kPa

Kgf/cm

kN/m

375

9.0

882

5.1

5.00

425

10.6

1039

5.5

5.39

525

14.7

1440

7.0

6.86

675

19.0

1862

7.6

7.45

725

20.0

1960

8.0

7.84

Center liner didasarkan pada kertas medium 125 gsm

2. Standar Internasional Rule-41 dan Item-222

Uniform Freight Classification (UFC) dan National Motor Freight Classification (NMFC) dibentuk untuk membuat kategori dari artikel yang diangkut dikaitkan dengan nilainya (value), kepadatan (density) , keringkihan (fragility) dan potensi kerusakan terhadap pengangkutan yang lain. Pengangkutan menggunakan kereta api mengacu kepada aturan UFC Rule 41, sedangkan pengangkutan dengan truck mengacu kepada aturan NMFC Item-222.

Ketentuan pengangkutan untuk kemasan corrugated box dapat diringkaskan sebagai berikut:

  • Spesifikasi box harus disebutkan (menggunakan parameter BCT atau ECT) untuk berat tertentu dari barang yang akan dikemas.
  • Ukuran box tidak boleh melebihi batas yang ditentukan (ukuran disini adalah jumlahan panjang, lebar, dan tinggi dari ukuran luar box)

Kegagalan dalam memenuhi aturan pengangkutan bisa dikenai penalti semisal ongkos yang lebih mahal, penolakan oleh angkutan atau tidak dibayarnya claim atas kerusakan barang.
Ketentuan ini juga mengharuskan pencantuman Box Manufacturer’s Certificate (BMC) yang dicetak di bagian bawah dari kemasan box . Contoh BMC seperti gambar berikut:

qc19

a. Single Wall

Berat box + Isi

Lbs Maks

Dimensi Luar (P+L+T),

Inch Maks

Bursting Strength,

Lbs/in2 Min

Jml Gramatur Liner

Lbs/1000ft2 Min

ECT,

Lbs/in lebar, Min

20

40

125

52

23

35

50

150

66

26

50

60

175

75

29

65

75

200

84

32

80

85

250

111

40

95

95

275

138

44

120

105

350

180

55

b. Double Wall

Berat box + Isi

Lbs Maks

Dimensi Luar (P+L+T),

Inch Maks

Bursting Strength,

Lbs/in2 Min

Jml Gramatur Liner

Lbs/1000ft2 Min

ECT,

Lbs/in lebar, Min

80

85

200

92

42

100

95

275

110

48

120

105

350

126

51

140

110

400

180

61

160

115

500

222

71

180

120

600

270

82

c. Tripe Wall

Berat box + Isi

Lbs Maks

Dimensi Luar (P+L+T),

Inch Maks

Bursting Strength,

Lbs/in2 Min

Jml Gramatur Liner

Lbs/1000ft2 Min

ECT,

Lbs/in lebar, Min

240

110

700

168

67

260

115

900

222

80

280

120

1100

264

90

300

125

1300

360

112

 D. Packaging Dangerous Goods and Hazardous Material.

Tujuan utama dari pengemasan bahan berbahaya adalah mewadahi bahan tersebut dengan cara yang benar untuk mencegah terlepasnya atau bocornya bahan yang terkandung didalamnya. Hal ini dapat dipenuhi dengan menggunakan kemasan yang sesuai dengan kriteria dari spesifikasi UN. Perjanjian internasional untuk pengangkutan bahan yang berbahaya mengharuskan penggunaan kemasan tertentu yang disertifikasi oleh badan nasional yang kompeten. Hal ini meliputi pengujian kemasan yang sesuai spesifikasi UN untuk menjamin kecocokan pengangkutan bahan berbahaya tertentu.
Kemasan yang sudah memenuhi spesifikasi UN berhak mencantumkan tanda atau label pada kemasannya. Contoh dari tanda UN spesfication adalah sebagai berikut:

qc20
1. UN Packaging symbol:

Simbol ini menyatakan bahwa packaging sudah di test dan lolos dari uji performance kemasan UN. Simbol ini tidak boleh dipakai sembarangan khususnya untuk kemasan yang belum dilakukan pengujian

2. UN Codes for Type of Packaging and Material of Construction:

Kemasan yang digunakan bisa berbagai tipe dan terbuat dari berbagai bahan. Berikut ini daftar tipe-tipe kemasan dan bahan pembuatnya.

Types of Packaging

·1 – Drums/Pails

·2 – Barrels

·3 – Jerricans

·4 – Box

·5 – Bag

·6 – Composite packaging

Materials of Construction

·A – Steel

·B – Aluminum

·C – Natural wood

·D – Plywood

·F – Reconstituted wood

·G – Fiberboard

·H – Plastic material

·L – Textile

·M – Paper, multi-wall

·N – Metal (other than steel or aluminum)

·P – Glass, porcelain or stoneware (not used in these regulations)

3. Packing Group:

Packing group menyatakan tingkatan bahaya dari barang berbahaya yang dikemas.
Berikut ini adalah kode yang dipakai untuk menentukan group barang berbahaya yang akan dimasukan dalam kemasan.

·X – for packing groups I, II and III

·Y – for packing groups II and III

·Z – for packing group III

4. Maximum Gross Weight:

Ada pada kemasan terluar khususnya untuk barang padatan. Tanda ini menyatakan maksimum berat kotor dalam satuan kilogram, pada saat kemasan itu di tes.

5. Solid or Inner Packaging
Menyatakan bentuk dari material yang di kemas atau bentuk dari inner packaging.
6. Year of Manufacture:
Menyatakan tahun kemasan ini dibuat. Penulisannya berupa dua angka terakhir dari tahun pembuatan
7. Origin of Manufacture:

Menyatakan negara asal kemasan ini dibuat.

8. Manufacturer Code:

Bagian terakhir dari tanda UN menyatakan kode dari pabrik pembuat kemasan